Kemana Perginya…

Beberapa hari yang lalu waktu berangkat ke kampus ada kejadian di jalan. Pengendara sepeda motor (1) menyelip pengendara sepeda motor yang lain (2) sehingga terhalang untuk jalan. Sepertinya sempat ada adu mata diantara mereka alias saling melotot satu sama lain (halah) dan itu menyebabkan kendaraan lain berhenti..

Untungnya adu mata berakhir dan kami dapat melanjutkan perjalanan dengan te… bentar dulu, belum juga 50 meter, terlihat lagi para pengendara motor yang tadi dipinggir jalan. Pengendara motor yang merasa terhalangi mendatangi pengendara motor satunya dan mulai memukul menggunakan helm, gak lama pemukulan berlanjut diatas rumput.. Pengendara yang sejak awal dipukulin pake helm selanjutnya mendapat pukulan tangan berkali-kali diwajahnya.. Busyet…. Untung banyak warga yang berdatangan untuk melerai mereka..

Beberapa bulan yang lalu-pun aku sempat melihat kejadian (berantem-berantem) seperti itu, tapi ini di pasar… tau apa yang terjadi? Pedagang pasar mengejar seseorang (entah siapa) dengan mengacung-acungkan goloknya.. Kejadian itu diawali oleh adu mulut…  hmmm….

“Kemana Perginya…??”

Masih segar diingatan berita yang kutonton di tv (kejadian tanjung priok 2010).. Saling baku hantam, saling menyakiti satu sama lain.. Amarah mendominasi jiwa, kekerasan seolah hal yang biasa… semua yang melihat hanya bisa bertanya dalam hati.. Apa tidak ada jalan keluar lain, solusi yang tidak melibatkan adu fisik? Entah-lah…

Kemana perginya “kesabaran”, atau niat baik untuk menyelesaikan sesuatu dengan “kepala dingin” dan “hati terbuka”, atau perlu juga disebut “kedewasaan” telah pergi? Bukankah orang yang dikatakan dewasa adalah orang yang bisa menyelesaikan masalah dengan tenang dan bijaksana… Bicarakan secara langsung dengan niat mencari kejelasan dan jalan keluar terbaik..

Hanya karena “adu mata” dan “adu mulut” selanjutnya tangan, helm, golok dipakai untuk melampiaskan emosi dan kemarahan…

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah engkau marah.” Kemudian beliau mengulangi perkataannya beberapa kali, dan bersabda: “Janganlah engkau marah.” (Riwayat Bukhari)

Marah-marah.. Ntar cepat tua…

Sabda Rasulullah yang lain:

“Tidaklah kekuatan itu dinilai dengan adu kekuatan (gulat), namun yang kuat itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya tatkala marah.” (Muttapaq Alaih)

Jadi orang yang kuat itu sesungguhnya orang yang mampu menahan amarahnya.. Atau mengendalikan emosinya.. Hmm..

Nb: Jangan memberi kesempatan setan bergembira dengan amarah kita.. tapi biarkan mereka yang marah-marah karena sabar kita…

Advertisements

2 thoughts on “Kemana Perginya…

  1. Mang zaman sekarang ,manusianya dah pada gila.Gimana gag gila coba?Semua pejabat maupun tokoh politk semuanya saling sikut dan gumul untuk meraih kekuasaan.Hebatnya lg semua itu ditonton oleh semua khalayak masyarakat umum.Bukankah TV sekarang adalah tempat belajar dan pendidikan yg harusnya mempertontonkan tayangan yg berguna dan berkualitas,namun banyaknya tayangan yg menyuguhkan para “AKTOR DADAKAN ” itu semakin memperkeruh jiwa dan mental para pemirsa TV yg berakibatkan semuanya menjadi rusak>MAu gag mau,semua kena imbasnya,pemimpinnya ngaco,rakyatnya ikut semakin ngaco.Betul gag…?
    Indonesia memang dunia ganjang-ganjing…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s